Posts Tagged ‘Social Engineering’

Ketika kita hidup dalam ruang lingkup (scope) dunia berbangsa dan bernegara, hukum merupakan salah satu instrumen yang tidak dapat dipisahkan. Hukum muncul sebagai alat untuk mengatur kehidupan sesuai dengan moralitas dan nilai-nilai dalam masyarakat. Tentunya, hukum bekerja sesuai dengan nilai dasar hukum yang ingin dicapai, yaitu kepastian, keadilan dan kemanfaatan.

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, hukum pun turut berkembang dan semakin berusaha mencapai nilai dasar yang paling sulit ditegakkan, yaitu keadilan. Proses tumbuh kembang hukum tidak lepas dari suatu kajian kritis dan skeptis dari disiplin ilmu lain, salah satunya filsafat.

Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani: philein (mencintai) dan sophia (kebijaksanaan). Jadi, secara etimologis filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan. Pythagoras, salah satu murid Plato, memahami sophia sebagai “pengetahuan hasil kontemplasi” untuk membedakannya dari keterampilan praktis hasil pelatihan teknis yang dimiliki dalam dunia bisnis dan para atlet. Dengan demikian, dalam belajar filsafat kita berusaha mencari pengetahuan atau kebenaran dan bukan pengetahuan dalam arti keterampilan praktis. (Andre Ata Ujan, 2009: 17).

Filsafat kemudian dikonstruksikan ke dalam ilmu hukum menjadi filsafat hukum. Namun, filsafat hukum bukan merupakan cabang dari ilmu hukum melainkan cabang filsafat. Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H. (2000: 48) memberikan definisi filsafat hukum sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari pertanyaan-pertanyaan mendasar dari hukum. Atau ilmu pengetahuan tentang hakikat hukum. Dikemukakan dalam ilmu ini tentang dasar-dasar kekuatan mengikat dari hukum.

Pada abad 20 dewasa ini, kompleksitas dan kedinamisan baik masyarakat maupun permasalahan yang ada di dalamnya—utamanya bidang hukum—sudah semakin tinggi dan sulit untuk dipecahkan. Oleh karena itu diperlukan sebuah pemikiran hukum yang progresif, membangun dan merombak di abad 20 sekarang ini guna memecahkan masalah tersebut.

Realisme hukum dan sosiologi hukum merupakan pemikiran hukum yang muncul pada abad 20. Keduanya melihat bahwa hukum itu seharusnya menjadi sarana social engineering (rekayasa sosial). Aliran realisme hukum dan sosiologi hukum ini merupakan bentuk kritik terhadap positivisme hukum yang rigid dan kaku.

Para ahli berpendapat bahwa permasalahan hukum pada abad 20 ini sudah tidak melulu berkaitan dengan penerapan hukum dan kepastian hukum. Masyarakat yang dinamis dan semakin maju sesungguhnya menginginkan era keadilan hukum.

Selama ini kita melihat nilai dasar hukum berupa kepastian, keadilan dan kemanfaatan tidak berdiri sejajar, terutama antara keadilan dengan kepastian. Nilai dasar kepastian seringkali lebih tinggi—lebih sering ditonjolkan, terutama dalam hal implementasi—daripada nilai keadilan. Oleh karena itu, pemikiran hukum abad 20 akan berusaha mengatasi permasalahan tersebut, namun dengan perwujudan yang tidak mudah.

(lebih…)