Sisi Lain Humanisme Penataan Pedagang Kaki Lima di Surakarta

Posted: 14/05/2011 in Tulisanku
Tag:, , , , , , , , ,

Tidak hari ini, tidak pada waktu yang lalu bahkan tidak pula esok hari, setiap manusia pasti selalu berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya. Tanpa melihat urgensi kebutuhannya, hampir semua makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna ini bisa dipastikan akan menggunakan segala daya upayanya untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Mulai dari kebutuhan primer hingga kebutuhan yang kurang penting, yaitu kebutuhan tersier, setiap orang selalu ingin mencapai dan memenuhinya. Era globalisasi, kebebasan dan perkembangan teknologi yang kian pesat, menimbulkan ekses terhadap rasa gengsi seseorang serta meningkatkan individualisme dan pembentukan stratifikasi sosial di dalam masyarakat, sehingga akan menjadi hal lumrah jika kebutuhan yang tidak terlalu penting pun sekarang ini dianggap penting dan patut untuk dimiliki.

Beragam jenis pekerjaan yang digeluti sebenarnya menghasilkan suatu tujuan utama dalam hidup, yaitu pemenuhan kebutuhan. Berapapun pemasukan yang diperoleh, hal itu tidak menjadi masalah ketika kebutuhan—terutama kebutuhan primer atau dasar—terpenuhi. Namun, tidak setiap orang memiliki pendapatan yang baik untuk memenuhi kebutuhannya apalagi jika orang tersebut juga mempunyai tanggungan keluarga, seperti istri dan anak-anak. Jika seperti itu, tentu saja akan semakin sulit untuk bertahan hidup di saat pemenuhan kebutuhan tidak bisa ditunda lagi. Refleksi keadaan tersebut salah satunya ada pada diri pedagang kaki lima.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III tahun 2005, pedagang kaki lima memiliki arti pedagang yang berjualan di serambi muka (emper) toko atau di lantai tepi jalan. Realitanya, pengertian itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Orang yang berjualan di atas trotoar, itulah pedagang kaki lima (PKL). Bangunan semi permanen maupun tidak permanen (mobile/bisa didorong) berbentuk balok yang seringkali terlihat di depan toko atau di pinggir jalan dengan sebuah televisi di dalamnya sebagai penghibur dan pelepas rasa penat sang penjual, itu juga merupakan PKL.

Jika kita melihat dan menghubungkan antara pengertian PKL dan kondisi di lapangan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa PKL pada umumnya tidak memiliki izin untuk berdagang/mendirikan bangunan di wilayah tempat biasa mereka “mangkal” menjajakan dagangannya. Keadaan tersebut memunculkan masalah lain yang tidak kalah peliknya. PKL yang “berserakan” tanpa izin akan mengganggu lalu lintas, mengurangi lahan hijau serta menghilangkan keindahan dan membuat semrawut kota. Ini merupakan sebuah masalah klasik yang hampir di setiap daerah/kota mengalaminya, tak terkecuali kota Surakarta.

Penataan PKL di Surakarta

Pedagang kaki lima pada dasarnya sama seperti jenis pedagang lainnya. Hanya saja mereka memang kurang beruntung dan agak susah diatur. PKL merupakan pedagang kecil dengan modal yang tidak seberapa dan jenis dagangan yang rata-rata homogen. Mereka tidak mempedulikan lokasi tempatnya berdagang. Pedagang kaki lima ini biasanya mencari tempat “kosong” untuk kemudian “diduduki” dan menjualbelikan barang-barangnya selama bertahun-tahun. Para PKL tidak pernah melihat tindakannya itu akan mengurangi keindahan kota dan menimbulkan permasalahan sosial lain. Dengan modal minim, mana bisa mereka menyewa tempat/lahan yang sah sebagai tempat berdagang?

Kota Surakarta merupakan kota yang tidak luput dari “serbuan” PKL. Akibat sering dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar negeri karena potensi budayanya serta terdapatnya salah satu perguruan tinggi negeri favorit, membuat para PKL tidak ragu untuk “beroperasi” di kota yang biasa disebut sebagai Solo ini. Hampir di seluruh titik perkotaan, terdapat gerombolan pedagang kaki lima. Sebut saja—sebelum direlokasi—di daerah Monumen’45 Banjarsari dan daerah kampus Universitas Sebelas Maret (UNS), tepatnya di sepanjang Jl. Ki Hajar Dewantara.

Meskipun Solo memiliki PKL yang cukup banyak, namun pemerintah kota (pemkot) ini mempunyai strategi dalam menatanya. Pemkot Solo yang digawangi oleh Walikota Ir. Joko Widodo menyadari bahwa para PKL itu pada dasarnya adalah pedagang biasa dan tidak perlu diusir atau dipaksa untuk meninggalkan kota Solo. Dengan menata para pedagang kaki lima secara baik dan terkonsep, maka bukan tidak mungkin pendapatan asli daerah (PAD) Solo akan meningkat. Inilah ide awal Jokowi—panggilan akrab Joko Widodo—dalam menata PKL yang tidak teratur di kotanya.

Jokowi selalu menerapkan pendekatan humanis dalam usaha melakukan penataan para PKL di “teritorial kekuasaannya”. Beliau tidak pernah mengerahkan aparat pamong praja untuk memaksa apalagi memerintahkan dengan kekerasan (kontak fisik) untuk menggusur PKL pindah dari lokasinya berjualan dahulu. Walikota Solo yang juga pengusaha mebel ini selalu memikirkan lokasi pemindahan terlebih dulu sebelum melakukan penataan. Jadi, tempat untuk pindah sudah dipersiapkan dahulu sehingga para PKL yang pindah itu tidak kesulitan untuk mencari tempat berjualan yang baru, serta tidak akan ada perlawanan dari PKL itu sendiri. Pemerintah kota Solo setelah “mengusir” para PKL dari lokasi awal, segera menuntun dan membujuk untuk menempati lokasi baru yang telah dipersiapkan.

Mungkin sebagian dari kita masih ingat ketika pemkot Solo memindah para PKL yang ada di Monumen’45 Banjarsari ke Pasar Semanggi. Pada waktu itu, pedagang kaki lima justru tidak begitu saja diusir dan dipaksa untuk pindah. Hal pertama yang dilakukan Joko Widodo selaku pimpinan tertinggi pemerintah kota Solo malah mengajak makan para PKL Monumen’45 Banjarsari itu di Loji Gandrung (rumah dinas beliau). Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali. Lebih dari 30 kali Jokowi telah mengajak para pedagang kaki lima ini untuk makan di rumah dinasnya. Pada perjamuan yang terakhir, barulah Jokowi mengutarakan maksud tujuannya. Beliau mengatakan pada saat itu akan memindah mereka ke tempat baru yang sudah disediakan di Semanggi. Jokowi meyakinkan para PKL itu bahwa beliau akan mengiklankan barang jualan mereka dan akan mengatur pelebaran jalan dan pencahayaan maupun transportasi menuju lokasi baru di Pasar Semanggi. Selain itu, Jokowi memberikan kios dan surat izin usaha gratis. Namun sebenarnya hal itu tidak gratis, para pedagang membuat surat perjanjian yang intinya membayar Rp 2.500,-/hari dalam jangka waktu 10 tahun. Hasil akhirnya, para PKL di Monumen’45 itu sebagian besar setuju dengan rencana beliau untuk memindah mereka ke Semanggi. Inilah tindakan humanis pemerintah kota Solo dalam hal penataaan para pedagang kaki lima.

Sisi Lain

Penataan PKL yang humanis di Solo tidak hanya membuat suasana dan keadaan yang harmonis, antara pemerintah kota dengan warganya. Akibat dari kebijakan pemkot Solo yang menata kotanya secara manusiawi, para PKL merasa diperhatikan dan tidak dianaktirikan. Hal ini berlanjut terus dan tidak berhenti. Setiap ada rencana perpindahan PKL ke lokasi baru, hampir dipastikan tidak akan ada gesekan maupun kontak fisik antara pemkot dengan para PKL.

Maka, tidak heran jika Solo ditunjuk menjadi pusat pelatihan atau training center penataan pedagang kaki lima se-Asia Pasifik pada Juli 2011 (Solopos, 3 Mei 2011). Hal ini tidak saja membuat kota Solo semakin dikenal, namun juga dapat meningkatkan rasa kepercayaan dari para warga Solo sendiri maupun warga pendatang yang berkunjung ke kota ini. Dengan penataan PKL yang baik, secara otomatis keamanan dan kenyamanan kota akan terwujud dengan sendirinya.

Dibalik kenyataan indah mengenai penataan pedagang kaki lima yang berjalan lancar dan kontinyu, ternyata terdapat sisi lain yang justru akan mengurangi prestasi bagus pemkot Solo selama ini jika tidak ada upaya revolusioner dan progresif untuk menyelesaikannya. Adalah tindakan pemerintah kota pasca perpindahan para PKL. Selama ini, kita melihat pasar yang menjadi lokasi baru para PKL masih terlihat sepi. Hal ini tentu saja membuat pedagang menderita karena omzet mereka tidak sesuai harapan.

Upaya pemerintah kota Solo dalam hal “meramaikan” lokasi baru PKL ini tidak cukup membuahkan hasil yang signifikan. Lihat saja di Pasar Panggungrejo yang terletak di belakang Kantor Kecamatan Jebres. Pasar ini merupakan lokasi baru PKL yang dipindah dari sepanjang Jl. Ki Hajar Dewantara. Sampai saat ini, pasar tersebut masih sepi pengunjung. Oleh karena itu, banyak pedagang yang menjadi tidak aktif berjualan di sana. Dari 201 kios hanya sekitar 40-an pedagang yang cukup aktif berjualan tiap hari (Solopos, 10 Mei 2011).

Ini merupakan sebuah situasi yang dilematis. Pemkot Solo yang berupaya untuk menata kota menjadi lebih teratur, namun di lain pihak kurang mengerti terhadap keadaan para PKL yang sudah direlokasi. Perlu upaya lebih dan konsistensi dari Jokowi dan jajarannya pasca relokasi PKL. Harus dibuat suatu masterplan terencana untuk meramaikan lokasi baru pedagang.

Komentar
  1. pondokinfo.com mengatakan:

    Salam kenal jg bro…mau share jg neh, aku punya artikel tentang sektor informal http://www.pondokinfo.com/index.php/pondok-realita/45-masyarakat/64-sektor-informal-permasalahan-dan-upaya-mengatasinya.html
    semoga bermanfaat :D

  2. aghung mengatakan:

    iya mas..perlu di tata ulang tuh pedagang yang membuat kemacetan

  3. Rakjat Koeasa mengatakan:

    asline di negara maju juga ada pkl,,pernaha nonton the touris ..itu kan ada pedagang di trotoara tapi kelihatan sangat sejahatera hidupnaya…kog bis gitu ya? apa yang salah di indonesia

    • Sindhu mengatakan:

      Hmm…film The Tourist? Wah aq blm prnah nonton tuh..
      Boleh deh ntar di-share… hehe

      yah, mngkin emank disana memperhatikan sekali para PKL. PKL-nya semacam diberdayakan dan didayagunakan untuk kemajuan perekonomian kota. Lagipula, di negara maju rata-rata emank orangnya lebih maju dari kita. Mereka udah mandiri.

  4. Wien Ina Kumala mengatakan:

    Wah…Tulisan yang keren…LanjutkaN!

    Btw, kayaknya kmrn liat mas sindhu di Solo Membaca. Bener ga ya? Hehe :)
    Salam Kenal dah… Keep Blogging ^ ^v

    • Sindhu mengatakan:

      Ya, thanks… hehe

      Eh, ini Wien Ina Kumala yg mana ya? Apa qta prnah ketemu sebelumnya?
      Aq bener-bener ga tau…

      Boleh deh ntar ke Solo Membaca lg besok. Besok (hari Rabu), ada kontes akustiknya jg. Seru lah pokoknya… hahaha…

  5. Wien Ina Kumala mengatakan:

    Selamat…mas sindhu jadi Finalis Blog Contest PIN 2011…Selamat berjuang! ^ ^

  6. Ayu Hafsari N mengatakan:

    hmm….Ndhuuuuuuuu sokmben cariin aq berita dunx buat majalah TA q. Nek konsepku nanti disetujuin dosenku. Wait 4 That Moment !!!

  7. http://www.facebook.com/nobii.nobita mengatakan:

    minat orang buka situs ini rendah,, coba bandingkan dengan narutobleachlover.blogspot.com/

    atau kamu bisa buat domain yg lebih singkat di http://blog.com nie juga free

    maafkan gan ,, jangan diambil hati,, tapi difikir ulang ulang ,wordpress menyediakan peluang bisnis
    ditambah lagi agan kasing link download

    upload aj file agan di ziddu disana agan dapat juga komisi

    <—- si petualang blog

    andai saya webmaster blognya nilainya 25

    • Sindhu mengatakan:

      Thanks gan, atas masukannya…
      Tp, ane cuma mau jadi diri sendiri.

      Ane sih ga ngincer statistik kunjungan. Ini cuma murni hobi aja gan. Jgn dianggep serius.

      Terus, maklum jg, ane kan masih newbie… hehehe.

  8. Lina mengatakan:

    wah… subhanallah… blogger sejati sepertinya.
    Bagus… :)
    Makasih juga sudah sempat mampir ke blog saya… :)

  9. ima mengatakan:

    anak plano mas??

    • Sindhu mengatakan:

      Bukan.
      Maaf, ini dengan siapa?

      Kenapa emangnya? :)

      • ima mengatakan:

        gpp, topiknya plano banget soalnya
        kebetulan ak anak plano :D

        salam kenal :)

    • Sindhu mengatakan:

      Oh gitu…
      Ya ga papa, jadi qta bisa saling berbagi ilmu…
      Hehe, iya salam kenal.

      Anak UNS jg?
      Tau blog-ku ini darimana?

      • ima mengatakan:

        bukan
        ak plano undip kok
        kmu jurusan apa?

        kebetulan lg searching ttg PKL solo ketemu ini :D

      • Sindhu mengatakan:

        Oh, dari Undip ya…
        Aq anak Hukum.

        Hmm..berarti kenal Irfan/Chusni?
        Tp, dia anak Sipil’2008 sih… :)

        Emank mau buat tugas ya? Ato skripshit,,,,ehh…skripsi maksudnya… :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s