Pengaruh Modernisasi dan Budaya Barat Terhadap Karakter Keluarga Muslim dalam Tatanan Masyarakat Islam di Indonesia

Posted: 12/05/2011 in Tulisanku

Prolog

Manusia yang diberi kodrat sebagai makhluk sosial tentunya tidak akan bisa hidup sendiri. Jiwa untuk berhubungan dengan yang lain dalam diri makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna ini, tidak bisa diganggu gugat oleh segala halangan apapun. Selain itu, rasa keingintahuan (curiousity) semakin memperkuat “sepak terjang” manusia dalam berhubungan sosial satu sama lain.

Setiap individu tanpa diperintah pasti akan melakukan komunikasi dengan individu yang lain. Perkembangan selanjutnya, para makhluk sosial ini akan semakin memperluas interaksinya menjadi suatu komunitas atau perkumpulan yang kemudian menjadi masyarakat kompleks seutuhnya. Sebelum menuju pada “wadah” sosiologis bernama masyarakat, masing-masing individu ini terlebih dahulu membentuk sebuah kelompok kecil yang telah mengikatkan setiap dirinya pada suatu ikatan resmi pernikahan atau ritual sejenis yang diakui oleh masyarakat sekitar serta memiliki satu visi, yaitu keluarga.

Keluarga merupakan kelompok terkecil dalam sebuah tatanan masyarakat. Oleh karena masyarakat adalah himpunan dari beberapa keluarga maka baik buruknya sebuah masyarakat sangat bergantung kepada baik buruknya keluarga. Keluarga yang baik adalah awal dari masyarakat yang sejahtera. Sebaliknya, keluarga yang amburadul adalah pertanda hancurnya sebuah masyarakat. Individu-individu yang baik akan membentuk keluarga yang harmonis. Keluarga-keluarga yang harmonis akan mewujudkan masyarakat yang aman dan damai. Selanjutnya masyarakat-masyarakat yang damai akan mengantarkan kepada negara yang kokoh dan sejahtera. Maka, jika ingin mewujudkan negara yang kokoh dan sejahtera bangunlah masyarakat yang damai. Dan jika ingin menciptakan masyarakat yang damai binalah keluarga-keluarga yang baik dan harmonis. (Abdul Hakam, 2004: 2).

Islam sebagai agama terbesar dengan pengikut yang tidak kalah banyaknya pula, telah menjelma mentransformasikan ajarannya ke dalam kelompok kecil masyarakat yaitu keluarga. Setiap anggota keluarga dengan prinsip-prinsip Islam dalam setiap aktivitasnya, secara umum adalah kelompok yang homogen. Mereka terdiri dari satu keyakinan kepercayaan. Jika tidak begitu, akan sulit menerapkan perikehidupan Islam secara menyeluruh dan konsisten.

Al Qur’an dan Al Hadits sebagai sumber utama agama Islam, menjadi dasar ajaran serta aturan bagi kaum muslim untuk membentuk sebuah sistem keluarga yang sesuai dengan perintah Allah SWT. Suami, Istri dan anak-anak hasil dari buah perkawinannya membentuk keluarga muslim dengan “disetir” oleh kedua sumber hukum Islam tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa modernisasi zaman dan semakin berkembangnya globalisasi, menyebabkan banyak pengaruh dari luar yang masuk ke dalam sistem kehidupan kita, khususnya pada karakter kehidupan keluarga muslim di Indonesia. Secara umum, pengaruh tersebut menimbulkan ekses positif yang salah satunya berupa efektivitas maupun efisiensi. Namun di sisi lain, terdapat juga bagian yang “gelap” dari dampak modernisasi serta pengaruh budaya Barat itu.

Permasalahan dan Analisa

Karakter keluarga muslim adalah didasarkan pada Al Qur’an dan Hadits yang mengaplikasikan ajaran-ajaran luhur dari Allah SWT dalam proses perjalanan sebuah keluarga. Aturan di dalam Al Qur’an maupun Hadits ini memberikan kiat-kiat untuk memperkuat jalinan keluarga, memantapkan fondasi bangunannya, dan melindunginya dari segala unsur negatif.

Dalam tatanan masyarakat Islam yang di dalamnya terdiri dari keluarga muslim, keluarga adalah tempat pengasuhan dan penggemblengan alami yang sanggup memelihara anak-anak yang sedang tumbuh sehingga mampu mengembangkan fisik, daya nalar, dan jiwa mereka. Namun, paham-paham modern berteriak keras dan lantang mengenai lembaga-lembaga non-keluarga yang mereka dengungkan mampu untuk menggantikan peran keluarga dalam membina dan membentuk anak (Ahmad Fa’iz, 2001: 71).

Pengalaman empiris membuktikan bahwa institusi lain di luar keluarga tidak dapat menggantikan seluruhnya peran lembaga keluarga. Bahkan, pada institusi non-keluarga—seperti playgroup—sangat mungkin adanya beberapa nilai negatif yang berpengaruh jelek bagi proses pembentukan dan pendidikan anak.

Pengaruh modernisasi melalui bentuk institusi selain keluarga tersebut jika diadopsi oleh keluarga muslim, maka akibat yang ditimbulkan bisa menjadi tidak baik. Karakter keluarga muslim yang penuh dengan kasih sayang dan perhatian, tidak akan cocok dengan bentuk pengaruh tersebut. Sebagai contoh, anak yang dititipkan di playgroup selama satu hari penuh, sementara kedua orang tuanya sibuk bekerja, maka ketika malam hari kedua orang tuanya pasti akan lelah atau malah kerja lembur semalaman dan tidak ada waktu untuk bercengkerama dengan anaknya itu. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus, bukan tidak mungkin sang anak menjadi pribadi yang tertutup atau mengalami gangguan mental karena kurangnya perhatian dan belaian orang tuanya. Fenomena ini banyak terjadi di kota-kota besar di Indonesia yang kondisinya memang sangat mengagungkan kemewahan dan pengakuan stratifikasi sosial dalam masyarakat, sehingga bekerja adalah hal nomor wahid dalam benak kaum metropolis kota besar.

Selain pengaruh modernisasi, karakter keluarga muslim pun dewasa ini sudah mulai banyak dipengaruhi oleh budaya Barat. Karakter yang dimaksud adalah akhlak. Keluarga muslim dalam mengarungi bahtera rumah tangga senantiasa memegang teguh ajaran tentang akhlak dan menjadikannya sebagai pilar-pilar penopang, sesuai dengan apa yang termaktub di dalam Al Qur’an serta Hadits.

Budaya Barat yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan sangat mengedepankan aspek kemajuan, modernitas, kebebasan, dan peradaban sangat mudah untuk masuk ke dalam sistem keluarga muslim. Salah satu sebabnya, para keluarga muslim ini umumnya membuka diri terhadap budaya Barat. Mereka menganggap bahwa hal itu merupakan batu lompatan yang berguna dalam perkembangan setiap anggota keluarganya.

Pengaruh budaya Barat yang telah merasuk ke dalam sanubari kehidupan keluarga muslim, semakin lama akan menjadikan karakter dari keluarga dengan basis Islam itu terkikis. Akhlak menjadi tidak kharimah lagi, mereka telah membuka diri untuk bercampur dengan lawan jenis, melakukan maksiat, mengumbar dorongan birahi, mengorbankan harga diri, kemuliaan, dan etika demi sebuah budaya Barat. Hal ini sudah sering pula terlihat dalam keluarga muslim di Indonesia. Tuntutan zaman membuat nilai-nilai Islam menjadi semakin dikesampingkan.

Keluarga muslim yang berbudaya Barat adalah keluarga yang memeluk sebuah budaya yang meracuni pola pikir anak-anak yang baru tumbuh, dan membesarkan mereka dalam suasana kebencian kepada agama, mengikuti sebuah peradaban yang penuh dengan pengumbaran birahi dan kemesuman (Ahmad Fa’iz, 2001: 103).

Epilog

Tidak bisa dielakkan bahwa kita hidup dalam tatanan masyarakat Islam yang selalu bersinggungan dengan kehidupan keluarga. Dengan mayoritas agama Islam di Indonesia, sangat mudah untuk membangun sebuah keluarga muslim dengan basis ajaran dan nilai-nilai Islam.

Namun, kemudahan itu sepertinya tidak akan bertahan lama. Terbukanya pintu globalisasi secara masif dan mudahnya akses informasi seakan memutus jurang pembatas antar negara dan budaya. Pengaruh eksternal sangat gampang masuk dan cepat berasilimasi dengan budaya setempat. Seperti dua sisi pedang, dampak globalisasi ini juga mempunyai keuntungan sekaligus kerugian.

Modernisasi serta budaya Barat merupakan produk kontemporer yang sudah sangat mengglobal. Keduanya telah masuk ke dalam pola kehidupan keluarga muslim di Indonesia. Akibatnya, secara perlahan karakter keluarga muslim yang didasarkan pada akhlak, kasih sayang, dan perhatian sesuai dengan Al Qur’an serta Al Hadits akan semakin pudar.

Sudah selayaknya kita sebagai insan Islam, khalifah di Bumi, membentengi diri dari segala pengaruh ekses globalisasi tersebut. Dimulai dari individu-individu terlebih dahulu, lalu berkembang pada keluarga. Tidak semua modernisasi dan pengaruh budaya Barat itu buruk. Penyeleksian terhadapnya sangat penting sehingga diharapkan tidak akan melangkahi koridor dari karakter keluarga Islam itu sendiri.

Komentar
  1. Sindhu mengatakan:

    Nice feedback…
    Thanks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s