Pendahuluan

Ekonomi sebagai ilmu yang mempelajari segala tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas, tapi dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas, menjadi suatu kajian sekaligus inti masalah ekonomi. Apabila hal ini terjadi terus, maka yang kemudian akan timbul adalah kelangkaan (scarcity). Alat pemuas kebutuhan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan kita. Begitupun sebaliknya, kebutuhan manusia yang tidak terbatas meningkat lebih cepat dibanding alat pemuas kebutuhan.

Beberapa negara menggunakan suatu sistemnya sendiri dalam memecahkan inti masalah ekonomi ini. Selain sebagai alat pemecah masalah ekonomi, sistem ekonomi tersebut menjadi instrumen dalam menjalankan perekonomian negara. Ada 2 sistem ekonomi besar yang terdapat di dunia, yaitu sistem ekonomi Sosialis dan sistem ekonomi Liberal.

Sistem ekonomi sosialis adalah sistem ekonomi dimana peran pemerintah sangat dominan dan berpengaruh dalam mengendalikan perekonomian. Berpijak pada konsep Karl Marx tentang penghapusan kepemilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditas penting dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak, seperti air, listrik, bahan pangan, dan sebagainya. Ciri-ciri sistem ekonomi ini adalah (i) semua alat dan sumber produksi dikuasai oleh negara, (ii) hak milik perseorangan tidak diakui, (iii) tidak bebas memilih pekerjaan, (iv) kebijakan ekonomi diatur oleh pemerintah.

Sistem ekonomi sosialis pada saat ini sudah tidak digunakan lagi. Meskipun dalam mekanismenya masih ada campur tangan pemerintah namun hanya sebatas pada regulator.

Sosialisme, yang hampir sama dengan sekulerisme dalam pandangannya tentang hidup, memiliki ketidakpercayaan terhadap kemampuan manusia untuk bertindak dalam kerangka kepentingan sosial. Oleh karena itu, muncullah kebutuhan untuk mengawasi kebebasan dan menghilangkan hak milik pribadi juga motif keuntungan melalui kepemilikan oleh negara untuk semua jenis produksi dan perencanaan pusat agar tercapai efisiensi dan kepantasan dalam pemamfaatan sumber-sumber daya.

Akan tetapi, penghilangan keuntungan sebagai reward langsung atas usaha perorangan menurunkan inisiatif dan efisiensi, yang keduanya dibutuhkan untuk pertumbuhan. Pembuatan keputusan yang terpusat juga membuat transfer dari sumber-sumber daya lambat dan kaku dan membuat semua alat produksi menjadi tidak efisien.

Oleh karena itu kemunculan perestroika pada sebagian besar negara-negara sosialis merupakan sebuah gerakan untuk memperkenalkan kembali keuntungan pribadi, harga yang realistis dan beberapa unsur lain dalam sistem pasar guna efisiensi yang lebih besar dalam alokasi sumber-sumber daya tersebut.

Pertanyaan mendasar masih tersisa disini: jika manusia tidak dapat dipercaya untuk mengelola bisnis swastanya dalam batasan kehidupan sosial manusia itu, bagiamana mereka dapat mengelola semua aset produksi bangsa untuk tujuan ini? Bukankah pemerintah berasal dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipercaya itu? Jika demikian, apakah jaminan bahwa mereka tidak akan mengeksploitasi kekuasaan yang dijalankan melalui penempatan semua aset produksi dalam komando mereka.

Maka kemudian, inilah yang menyebabkan sistem ekonomi sosisalis hancur. Pengeksploitasian kekuasaan terhadap sumber-sumber produksi negara—dengan menganggap melalui sikap ketidakpercayaan bahwa perseorangan tidak bisa mengelola aset-aset produksi—menjadikan situasi monopoli yang luar biasa.

Sistem ekonomi liberal yaitu sistem ekonomi dimana kegiatan ekonomi produksi, distribusi, dan konsumsi dilakukan oleh pihak swasta. Diuraikan oleh tokoh-tokoh penemu liberal klasik seperti Adam Smith dan French Physiocrats. Konsep dari ekonomi liberal ialah bergerak kearah suatu sistem ekonomi pasar bebas dan sistem berpaham perdagangan bebas.

Ciri-ciri sistem ekonomi ini yaitu (i) semua sumber produksi milik masyarakat, (ii) pemerintah tidak campur tangan langsung, (iii) timbul persaingan dalam masyarakat, (iv) selalu berorientasi mencari keuntungan.

Sistem ekonomi liberal telah menjadi primadona pemecah masalah ekonomi selama bertahun-tahun—setelah hancurnya sistem ekonomi sosialis. Kebebasan individu sangat didukung dengan kreatifitas masing-masing pelaku produksi. Varian-varian baru pun tak pelak muncul. Para player of economics state ini bebas dalam mengembangkan dan memiliki alat-alat produksi. Hasilnya, menimbulkan barang dan jasa bermutu tinggi, efisiensi serta efektifitas pun semakin tinggi.

Dibalik itu semua, hal ini juga berdampak pada tidak meratanya pemerataan pendapatan. Bahasa mudahnya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Fenomena tersebut disebabkan hanya segelintir orang saja yang mampu mengelola unit-unit produksi untuk menghasilkan profit dan manfaat. Orang yang tidak mampu akan tergilas oleh persaingan yang ketat.

Amerika Serikat—yang sistem ekonominya liberal—saat ini tengah mengalami krisis ekonomi hebat. Hal ini berimbas pada negara-negara di Eropa dan Asia. Banyak perusahaan-perusahaan besar di Amerika yang collapse. Akibatnya, banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena di-PHK oleh perusahaan yang collapse itu.

Penyebabnya adalah bermula dari macetnya kredit perumahan di Amerika karena ternyata para pemilik rumah memang tak mampu membayar cicilan kredit. Kemacetan itu merembet ke mana-mana, terutama menimbulkan krisis keuangan di Amerika, dan kemudian berdampak ke berbagai belahan dunia.

Di Amerika, krisis ini menyebabkan harga rumah turun sampai 16%, angka pengangguran meningkat bersama meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan-perusahaan yang terguncang krisis. Penjualan rumah macet.
Maka berbagai lembaga keuangan raksasa yang bangkrut, seperti disebut di atas, umumnya adalah perusahaan yang terlibat dalam pemberian kredit, penjaminan kredit, dan asuransi kredit perumahan subprime mortgage.

Kedua sistem ekonomi tersebut diatas ternyata belum mampu untuk memecahkan permasalahan ekonomi dan sekaligus belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan, krisis ekonomi dunia saat ini menunjukkan kegagalan sistem ekonomi kapitalis/liberal (Direktur Bank Dunia, Robert Zoellick). Oleh karena itu, sudah saatnya kita harus mencari sistem ekonomi baru dalam menghadapi krisis ekonomi saat ini dan tentunya secara otomatis juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pembahasan

I. Ekonomi Islam: Sebuah Prolog

Saat ini, ekonomi Islam sering disebut-sebut oleh banyak kalangan sebagai pemecah masalah krisis ekonomi yang tengah melanda dunia saat ini. Jenis kajian ilmu ekonomi ini berlandaskan syariat-syariat agama Islam yang tertuang dalam kitab suci Al Qur’an dan hadits. Sesungguhnya, yang membuat kajian ekonomi ini adalah Allah SWT. Semua aturan dan prosedur dalam melakukan kegiatan ekonomi serta segala tetek bengeknya, diatur dalam kitab Al Qur’an yang merupakan perwujudan firman Allah SWT. Ekonomi Islam saat ini telah menjelma menjadi suatu sistem yang kuat untuk mengatasi permasalahan ekonomi.

Teori ekonomi Islam sebenarnya bukan ilmu baru atau sesuatu yang diturunkan secara mendasar dari teori ekonomi yang ada sekarang. Sejarah membuktikan para pemikir Islam merupakan penemu atau peletak dasar semua bidang ilmu. Para ekonom muslim sendiri mengakui, mereka banyak membaca dan dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Aristoteles (367-322 SM) sebagi filsuf yang banyak menulis masalah ekonomi. Namun, mereka tetap menjadikan Al Qur’an dan hadits sebagai rujukan utama dalam menulis teori-teori ekonomi Islam.

Beberapa institusi ekonomi yang ditiru oleh Barat dari dunia Islam antara lain syirkah (serikat dagang), suftaja (bills of exchange), hiwala (letters of credit), dar-ut Tiraz (pabrik yang didirikan dan dijalankan negara) di Spanyol, Sicilia, Palermo, dan ma’una (sejenis private bank) dikenal di Barat sebagai Maona. Bahkan, buku The Wealth of Nations karya Adam Smith (1776 M) diduga banyak mendapat inspirasi dari buku al-Amwal-nya Abu Ubaid (838 M)—(Ir. H. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P., 2001:14)

Karakteristik sistem ekonomi Islam adalah (i) mendialektikkan nilai-nilai spiritualisme dan materialisme, (ii) kebebasan berekonomi dan tidak menafikan intervensi negara, (iii) dualisme kepemilikan (Allah pemilik hakiki, dan harta kekayaan hanya titipan), (iv) menjaga kemaslahatan individu dan kemaslahatan bersama, (v) menghindari transaksi ribawi, dan (vi) menjadikan uang sebagai medium of exchange, bukan komoditi.

Jika sistem ekonomi liberal menonjolkan sifat individualisme dari manusia, kemudian sistem ekonomi sosialis pada kolektivisme, maka Islam menekankan empat sifat sekaligus, yaitu (i) kesatuan (unity), (ii) keseimbangan (equilibrium), (iii) kebebasan (freedom), dan (iv) tanggungjawab (responsibility). Keempat sifat inilah yang menjadikan sistem ekonomi Islam begitu kuat.

II. Pentingnya Memahami Ekonomi Islam

Sesungguhnya, apa yang membuat ekonomi Islam saat ini banyak dielu-elukan oleh para ahli dalam usaha mengatasi krisis global sekarang ini? Pertanyaan ini akan saya jawab dengan penjabaran mengenai bagaimana sebenarnya ekonomi Islam itu dan mengapa ekonomi Islam itu begitu kuat serta stabil. Sehingga kita bisa lebih memahami sistem ekonomi ini serta mengapa penting kita harus memahami hal ini.

Pertama, sistem ekonomi Islam berbasis uang logam emas dan perak. Dalam ekonomi Islam digunakan uang logam yang mengandung emas (dinar) dan perak (dirham), bukan uang kertas seperti sistem ekonomi liberal dan sosialis. Dengan alat pembayaran berupa mata uang emas (dinar) dan perak (dirham) ini, tingkat inflasi yang didapat akan sangat kecil. Tidak berarti bahwa menggunakan dinar dan dirham ini bebas dari inflasi. Masih dapat terkena inflasi tapi sangat kecil sekali. Misalnya pada masa Rasulullah SAW, dengan uang 1 dinar (4,25 gram emas) orang dapat membeli seekor kambing dan dengan 1 dirham (2,975 gram perak) orang dapat membeli seekor ayam.

Merujuk pada kondisi saat ini, tahun 2009, dengan uang 1 dinar orang juga masih dapat membeli 1 ekor kambing dan dengan 1 dirham orang pun mampu membeli 1 ekor ayam. Inilah bukti sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang luar biasa. Sistem uang berbasis emas dan perak memiliki nilai intrinsik dan nominal yang sama. Karena nilai nominal dirham dan dinar ditentukan oleh berat logamnya yang sekaligus menjadi nilai intrinsiknya.

Inilah bukti keunggulan yang dimiliki dinar dan dirham tidak dimiliki oleh uang kertas. Jika dinar dan dirham mampu memperkokoh ekonomi karena tahan inflasi, uang kertas justru merapuhkan ekonomi karena sangat sensitif dengan inflasi.

Kedua, sistem ekonomi Islam tidak mengakui sektor non real yang berbasis bunga. Dalam Islam tidak ada bursa saham dan pasar modal yang di dalamnya diwarnai dengan aktivitas jual beli saham, obligasi dan berbagai komoditi tanpa adanya serah terima komoditi yang diperjualbelikan. Lebih lanjut, di dalam bursa saham dan pasar modal ini, bahkan komoditi tersebut dapat diperjualbelikan berkali-kali tanpa harus mengalihkannya dari pemilik asli. Model transaksi semacam ini adalah batil dalam pandangan Islam dan mampu menimbulkan banyak spekulasi yang berujung pada goncangan pasar.

Ketiga, Islam tidak mengenal riba dalam praktek perbankannya. Riba adalah menambah sesuatu berupa imbalan dalam transaksi ekonomi—dalam perbankan konvensional disebut bunga. Seperti suatu contoh satu dinar ditukar dengan dua dinar. Bunga di dalam perbankan dilarang oleh Islam. Praktik riba yang ada, akan mendudukkan pemiliknya sebagai sekedar pemilik. Ia memberikan pada diri pemilik atas kepemilikannya itu hak untuk melakukan pemerasan terhadap keringat, upaya atau darah orang lain. Menyebabkan pemilik harta itu untuk menikmati hasil jerih payah orang lain by doing nothing. Contoh nyata adalah orang yang memberikan pinjaman kepada orang lain, kemudian orang yang diberi pinjaman itu belum mampu membayar sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati kedua belah pihak. Maka, pemberi pinjaman lalu menambah waktu bagi peminjam untuk melunasi, namun dalam tempo pelunasan selanjutnya jumlah yang dibayarkan bertambah, karena pemberi pinjaman menyatakan bahwa pelunasan bisa diulur dengan syarat diberi bunga—sebagai konsekuensi penguluran waktu pelunasan tersebut. Ini yang disebut riba. Pemberi pinjaman mendapat hasil pelunasan yang lebih besar daripada yang dipinjamkan sebelumnya.

Dalam kehidupan ekonomi, riba merupakan bahaya. Diantaranya adalah (i) dapat menumbuhkan rasa permusuhan di antara individu, (ii) mendorong manusia untuk menimbun harta sambil menunggu pergerakan tingkat suku bunga, (iii) menimbulkan kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Artinya, yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin.

Selain itu, sistem riba juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Realita yang ada, riba dapat menciptakan beberapa krisis yang pernah terjadi di dunia—sekarang menciptakan krisis yang melanda kapitalis (Amerika). Kemudian, mengakibatkan penyimpangan kegiatan produksi serta hanya memberikan kemaslahatan bagi para pelaku riba.

Seorang Yahudi pada tahun 1970 pernah mengatakan bahwa dengan adanya bunga, maka perputaran uang akan berpusat pada sekelompok orang saja. 80% dari uang yang ada berputar pada golongan mereka dan 20% untuk kelompok lainnya. Hal senada juga disampaikan oleh direktur bank di Jerman pada tahun 1953 di Damaskus. Dia mengatakan, dengan adanya mekanisme bunga, kekayaan akan berputar pada pelaku riba. Dalam sistem riba, pemilik uang akan selalu untung dalam setiap transaksi. Berbeda dengan peminjam, ia mempunyai potensi untung ataupun rugi. Dengan adanya bunga, dalam kalkulasi matematis akan kembali dan menguntungkan pemberi pinjaman dan ia akan selalu untung.

Oleh karena itu, Islam sangat tidak menyukai praktik riba bagaimanapun bentuknya. Hal tersebut akan merugikan diri sendiri dan orang lain, yang dalam hal ini pelaku ekonomi serta perekonomian itu sendiri. Sekali lagi, ekonomi Islam tidak mengenal sistem riba serta segala macam praktiknya.

Penutup

Krisis ekonomi global menyebabkan kesejahteraan masyarakat menurun. Banyak orang di-PHK karena perusahaan yang menaungi para pekerja itu collapse. Sistem ekonomi saat ini tidak mampu menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, apa lagi yang kita harapkan dari sistem ekonomi saat ini yang tidak menyejahterakan masyarakat—bahkan bukan menjadi solusi dalam krisis saat ini. Ekonomi Islam telah terbukti dan terlihat performanya yang baik dalam mengatasi krisis, juga menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam beberapa tahun belakangan ini. Ekonomi Islam sangat pro terhadap kesejahteraan seluruh manusia, dalam hal ini semua pelaku ekonomi. Sistem ekonomi Islam tidak menguntungkan salah satu pihak saja—seperti sistem ekonomi liberal, juga tidak menekan kebebasan pelaku ekonomi—seperti sistem ekonomi sosialis.

Ekonomi Islam saat ini (bisa) menjadi instrumen pemecah masalah ekonomi juga sekaligus bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari ketiga penjabaran tersebut di atas, kiranya cukup dapat membuktikan bahwa ekonomi Islam itu sangat kuat dan stabil dalam menghadapi krisis saat ini. Memahami ekonomi Islam sekarang begitu penting, karena kita memang butuh suatu instrumen ekonomi baru untuk membereskan masalah krisis ekonomi global ini.

Dengan sistem mata uang dinar dan dirham, ekonomi Islam mampu bertahan dari laju inflasi. Mata uang ini sangat tidak rentan terhadap inflasi. Dinar dan dirham mampu meminimalisir tekanan inflasi yang menerpanya. Pertanyaan kemudian muncul, bagaimana jika sistem mata uang emas (dinar) dan perak (dirham)—dahulu digunakan pada zaman Rasulullah ini—diterapkan pada zaman sekarang?

Hal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Mengaitkan nilai mata uang dengan nilai emas dan perak bukanlah hal yang sama sekali baru dalam ekonomi konvensional sekalipun. Ketika Perang Dunia II selesai dan Eropa tinggal puing-puing, Amerika Serikat (AS) mengambil inisiatif mendirikan International Bank of Reconstruction & Development (kini World Bank) untuk membangun kembali Eropa. Uangnya tentu saja dolar AS yang dapat ditukarkan dengan sepersekian gram emas. Dengan makin banyaknya dolar baru dicetak, seharusnya cadangan emas Federal Reserve AS juga meningkat. Namun, tidak demikian keadaannya. Apa boleh buat, lama kelamaan AS tidak lagi mampu mempertahankan sistem nilai dolar yang dikaitkan dengan standar emas. Itulah yang terjadi pada 1971, ketika Presiden Nixon mengumumkan lepasnya dolar dari standar emas dan berakhirnya Bretton Wood System.

Lebih lanjut, mengenai sektor non real. Walaupun perekonomian Islam sangat terbuka terhadap perekonomian global, tetap dampak negatif gejolak perekonomian global tidak dirasakan. Sebab, Islam dengan keras menolak segala jenis transaksi maya (melalui sektor non real seperti bursa saham dan pasar modal/pasar uang). Uang bukan komoditas. Praktek penggandaan uang dan spekulasi dilarang. Dengan penolakan ini, ekonomi Islam mampu mengatasi goncangan pasar.

Sistem perbankan Islam menjadikan suatu tatanan kehidupan yang jujur dan menciptakan suasana yang tidak monopolis. Hal ini juga menutup gap antara yang kaya dan miskin. Yang kaya tidak bisa lagi semakin kaya dan yang miskin tidak akan semakin miskin. Semuanya sama rata.

Seluruh negara di dunia harus mencermati perkembangan ekonomi Islam sekarang ini. Hal ini penting karena, sekali lagi, sudah bukan saatnya menerapkan sistem ekonomi liberal apalagi sosialis. Kesejahteraan masyarakat bisa lebih baik dengan diterapkannnya sistem ekonomi Islam.

Daftar Pustaka

1. Al Mishri, Abdul Sami’. 1990. Pilar-Pilar Ekonomi Islam. Terjemahan oleh Dimyaudin Djuwaini. 2006. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

2. Karim, Adiwarman Azwar. 2001. Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer. Jakarta: Gema Insani Press.

3. dkk, Nur Jaka. 2007. Intisari Ekonomi untuk SMA. Bandung: CV. Pustaka Setia.

4. Mubyarto. 2002. “Penerapan Ajaran Ekonomi Islam di Indonesia”(online), (http://www.ekonomirakyat.org/penerapan-ajaran-ekonomi-islam-di-indonesia.html/), diakses 24 April 2009.

5. Hanin Mazaya. 2008. “Robert Zoellick : Sistem Ekonomi Kapitalis Dunia Gagal”(online), (http://www.arrahmah.com/robert-zoellick-:-sistem-ekonomi-kapitalis-dunia-gagal.html/), diakses 25 April 2009.

6. Adi Wijaya. 2008. “Opini: Sistem Ekonomi Islam VS Sistem Ekonomi Kapitalis”(online), (http://qnoyzone.blogdetik.com/index.php/2008/10/31/opini-sistem-ekonomi-islam-vs-sistem-ekonomi-kapitalis/), diakses 25 April 2009.

About these ads
Komentar
  1. zamanbitiyor mengatakan:

    An informative blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s